SUMENEP, Di usia senjanya, Fatihah (70), warga Desa Ambunten Barat, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, harus menjalani hari-harinya di rumah yang kondisinya memprihatinkan dan nyaris ambruk. Ironisnya, hingga kini rumah peninggalan almarhum suaminya tersebut belum tersentuh bantuan pemerintah, meski sebelumnya pernah didata oleh perangkat desa.
Kepada Jatim Ekspos, Kamis (28/05/2026), Fatihah menuturkan bahwa beberapa tahun lalu rumahnya sempat didatangi perangkat desa untuk dilakukan pendataan bantuan rumah tidak layak huni.
“Waktu suami saya masih hidup, rumah ini pernah didatangi perangkat desa dan difoto. Katanya untuk data bantuan. Tapi sampai suami saya meninggal dunia, bahkan sekarang sudah hampir satu tahun berlalu, tidak ada kabar sama sekali. Saya juga tidak tahu foto itu akhirnya digunakan untuk apa,” ungkapnya.
Kondisi bangunan yang sudah lapuk dimakan usia membuat Fatihah dihantui rasa takut setiap kali hujan deras dan angin kencang melanda wilayahnya.
“Kalau musim hujan dan angin besar datang, saya sering mengungsi ke rumah anak. Saya takut kalau sewaktu-waktu rumah ini roboh saat saya sedang tidur,” tuturnya dengan nada lirih.
Meski hidup dalam keterbatasan, Fatihah mengaku tidak pernah menuntut bantuan dari siapa pun. Ia bahkan tetap bersyukur karena masih memiliki tempat untuk berteduh.
“Saya tidak pernah memaksa atau menuntut bantuan. Selama rumah ini masih bisa ditempati, saya tetap bersyukur,” katanya.
Namun demikian, ia tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya ketika melihat sejumlah warga yang dinilainya lebih mampu justru mendapatkan bantuan perbaikan rumah.
“Kalau bantuan itu diberikan kepada orang yang benar-benar susah seperti saya, tentu saya ikut senang. Tapi yang membuat hati saya sedih, ada yang kondisi ekonominya lebih baik justru mendapat bantuan lebih dulu. Di situlah saya merasa ada ketidakadilan,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan yang dihadapinya, Fatihah hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT. Ia mengaku tidak menginginkan kemewahan, melainkan berharap diberikan kesehatan dan keberkahan hidup.
“Saya tidak meminta apa-apa. Saya hanya berdoa semoga anak-anak saya masih diberi rezeki untuk membantu saya makan, dan semoga Allah memberikan kesehatan sampai akhir hayat,” pungkasnya.
Kisah yang dialami Fatihah menjadi potret nyata bahwa masih terdapat warga yang benar-benar membutuhkan perhatian dan bantuan pemerintah. Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya ketepatan sasaran dalam penyaluran program bantuan sosial, khususnya bantuan rumah layak huni bagi masyarakat kurang mampu.
(Ali)









